Cut Off Boleh, tapi Apakah Hubungan Itu Benar-Benar Tidak Layak Diperbaiki?

 

By Freepik.com

    Fenomena cut off dalam pertemanan semakin sering muncul dalam percakapan sehari-hari, terutama di era ketika narasi “self-love”, “toxic-free life”, dan “proteksi energi” begitu mudah ditemukan di media sosial. Namun di balik popularitasnya, ada pertanyaan penting yang jarang dibahas: 

Apakah setiap hubungan yang terasa tidak nyaman benar-benar harus diakhiri? Atau sebenarnya masih ada ruang untuk diperbaiki?

Apa itu Cut Off dalam Pertemanan?

Cut off adalah keputusan sadar untuk mengakhiri hubungan secara total, bukan sekadar menjauh sementara, bukan “butuh jeda”, dan bukan hanya mengurangi intensitas komunikasi. Dalam cut off, seseorang benar-benar memutus koneksi baik secara emosional maupun interaksi sehari-hari.

Tindakan ini biasanya ditandai dengan:

  • Menghentikan seluruh bentuk komunikasi
  • Menghapus atau memblokir kontak di media sosial
  • Menghindari pertemuan dan ruang interaksi
  • Tidak lagi menganggap orang tersebut sebagai bagian dari lingkaran pertemanan

    Berbeda dari pertengkaran biasa, cut off adalah langkah final. Ia muncul saat seseorang merasa hubungan itu terlalu melelahkan, beracun, atau tidak lagi memberikan ruang bagi dirinya untuk bertumbuh. Kadang dilakukan sepihak, kadang disepakati bersama, semuanya bergantung pada dinamika yang terbentuk sebelumnya.

Mengapa Banyak Orang Memilih Cut Off?

Ada beberapa alasan umum mengapa keputusan ini terasa semakin normal dan mudah dilakukan:

  1. Merasa hubungan tidak sehat
    Ketika seseorang merasa terus dilemahkan, diremehkan, dimanfaatkan, atau tidak dihargai, memutus hubungan terlihat seperti satu-satunya jalan keluar.
  2. Menghindari konfrontasi
    Tidak semua orang nyaman membicarakan masalah secara dewasa. Bagi sebagian orang, menghilang terasa lebih mudah dibanding menghadapi percakapan yang penuh ketidakpastian.
  3. Perbedaan nilai dan cara pandang
    Semakin dewasa, kita semakin jelas dengan nilai-nilai pribadi. Ketika perbedaan prinsip terlalu jauh, bertahan bisa terasa memaksakan diri.
  4. Pengaruh narasi self-love di media sosial
    Tren digital kerap menyederhanakan persoalan kompleks menjadi slogan, seakan memutus hubungan selalu merupakan indikator kesehatan mental, bahkan ketika sebenarnya masalahnya bisa dibicarakan.
  5. Trauma atau pengalaman buruk sebelumnya
    Mereka yang pernah disakiti cenderung cepat menarik garis batas. Cut off menjadi mekanisme perlindungan diri yang terasa aman, meski kadang terlalu terburu-buru.

Apakah Semua Pertemanan Layak Diperjuangkan?

Tidak. Ada hubungan yang memang lebih sehat jika diakhiri. Misalnya ketika:

  • Manipulatif: ada upaya dengan sengaja memanfaatkan atau mengendalikan demi keuntungan sepihak.
  • Merendahkan secara terus-menerus: bukan bercandaan sesekali, tetapi pola yang berulang dan mengikis harga diri.
  • Menguras mental: selalu meninggalkan rasa lelah, dramatis, atau membuatmu merasa berjalan sendirian.
  • Tidak ada hubungan timbal balik: kamu terus memberi, tapi hampir tidak pernah menerima.

Hubungan seperti ini memang tidak layak dipertahankan hanya demi nostalgia atau rasa sungkan.

Namun, ada pula kasus yang sebenarnya masih bisa diperbaiki, hanya saja kita terlalu cepat menarik kesimpulan bahwa hubungan tersebut “rusak” dan tidak bisa diselamatkan.

Kapan Cut Off Justru Menjadi Bentuk Ketidakdewasaan?

Ini bagian yang sering tidak nyaman untuk diakui, tapi penting untuk dipahami. Cut off bisa menjadi bentuk ketidakdewasaan ketika dilakukan karena:

  1. Kita tidak pernah menyampaikan apa yang salah
    Jika masalah tidak pernah dibicarakan, bagaimana orang tersebut tahu bahwa ada luka? Cut off menjadi cara mudah untuk menghindari ketidaknyamanan, bukan solusi.
  2. Ekspektasi yang tidak pernah dikomunikasikan
    Kadang rasa kecewa muncul bukan karena dikhianati, tetapi karena kita mengharapkan sesuatu yang tidak pernah kita sampaikan.
  3. Kita ingin menghindari kritik
    Ada orang yang menyebut kritik sebagai hal yang toxic, padahal yang terjadi adalah ia tidak siap mendengar fakta yang menyakitkan namun benar.
  4. Keinginan untuk “menang” lebih besar daripada keinginan untuk memahami
    Jika tujuan kita hanyalah membuktikan diri benar, mengakhiri hubungan menjadi jalan pintas untuk menghindari percakapan emosional yang kompleks.

Bentuk Kedewasaan dalam Pertemanan

Bersikap dewasa bukan berarti memaksa diri bertahan dalam hubungan yang buruk. Namun kedewasaan menuntut keberanian untuk bicara dulu sebelum pergi. 

Kedewasaan berarti:

  • Mampu berkata “aku tersinggung” tanpa menyerang
  • Mampu mendengar tanpa defensif
  • Mau mengakui kesalahan atau kontribusi kita terhadap konflik
  • Siap berkonflik dengan cara yang sehat

"Hubungan yang kuat bukan hubungan yang bebas konflik, melainkan hubungan yang mampu melewati konflik dengan komunikasi yang matang."

    Kita selalu punya hak untuk pergi. Tidak semua pertemanan layak diperjuangkan, dan tidak semua luka harus disembuhkan bersama orang yang membuatnya. Namun tidak semua masalah harus diselesaikan dengan menghilang. Kadang hubungan itu sebenarnya masih bisa diperbaiki—asal diberikan kesempatan untuk bicara, memahami, dan memperbaiki pola yang salah. Mungkin yang kita butuhkan bukan cut off, tetapi keberanian untuk duduk bersama, saling mendengar, dan mengakui bahwa hubungan yang sehat membutuhkan usaha dari kedua sisi.




Referensi: 

https://www.liputan6.com/feeds/read/5785745/cut-off-dalam-pertemanan-adalah-fenomena-yang-perlu-dipahami?page=6

https://www.suratdokter.com/psikologi/1484396744/mengenal-cut-off-dalam-hubungan-pertemanan-dampak-dan-cara-mengatasinya?page=2 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUGAS POKOK dan FUNGSI HUMAS PIK-R AKSIOLOGI UNSOED

MAKNA PIK-R DAN MANFAATNYA

APA ITU PIK-R ?